Terapi Air Hangat Turunkan Tekanan Darah Ibu Hamil, Tim Poltekkes Kemenkes Palu Lakukan Intervensi di Tiga Puskesmas

Tingginya Hipertensi Pada Kehamilan

Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Palu dan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Kota Palu.

PALU,trustednews.id -Tim dosen Poltekkes Kemenkes Palu menggelar kegiatan pengabdian masyarakat berbasis penelitian di tiga puskesmas di Kota Palu dengan fokus pada ibu hamil penderita hipertensi. Kegiatan ini mengangkat topik “Pengaruh Terapi Komplementer Hidroterapi Menggunakan Air Hangat terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Ibu Hamil dengan Hipertensi”, di Puskesmas Birobuli, Singgani, dan Mamboro, (04/08/2025).

Dipimpin oleh dosen Asriwidyayanti, SKM., MM. dan Niluh Nita Silfia, SSiT., M.Keb., kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian akademisi terhadap tingginya kasus hipertensi pada kehamilan yang menjadi salah satu penyebab utama komplikasi maternal dan neonatal.

“Kami ingin membuktikan bahwa pendekatan sederhana dan alami seperti hidroterapi bisa menjadi pilihan aman bagi ibu hamil dalam menurunkan tekanan darah. Ini penting agar intervensi tak selalu bergantung pada obat-obatan,” ujar Asriwidyayanti, Ketua Tim Peneliti dan Pengabdi.

Menurut Asriwidyayanti pemilihan ketiga puskesmas tersebut bukan tanpa alasan.
“Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Palu Tahun 2024, Birobuli, Singgani, dan Mamboro merupakan puskesmas dengan kunjungan ANC (Antenatal Care) tertinggi, sehingga dianggap representatif sebagai lokasi penelitian sekaligus intervensi” kata dosen yang akrab dipanggil Cencen ini.

Penelitian menggunakan desain eksperimen semu dengan pengukuran tekanan darah sebelum dan sesudah terapi. Intervensi dilakukan dengan merendam kaki ibu hamil dalam air hangat bersuhu 37–40°C selama 15–20 menit, tiga kali seminggu selama dua minggu.

Seluruh prosedur dilakukan secara aman dan sesuai dengan protokol etik. Tekanan darah ibu hamil diukur menggunakan alat yang sudah dikalibrasi untuk memastikan keakuratan data.

“Air hangat membantu memperlancar sirkulasi darah dan membuat tubuh lebih rileks, sehingga sangat efektif menurunkan tekanan darah secara alami,” jelas Niluh Nita Silfia menambahkan.

Selain itu kata ia, kegiatan ini tidak hanya memberi manfaat langsung bagi ibu hamil yang menjadi peserta, tetapi juga memberikan pengetahuan baru bagi tenaga kesehatan di puskesmas tentang alternatif terapi non-farmakologis. Dengan terapi sederhana ini, diharapkan puskesmas dapat mengembangkan program antenatal yang lebih komprehensif dan ramah ibu.

“Kami berharap ke depan, terapi komplementer seperti ini bisa diadopsi sebagai bagian dari pelayanan rutin di puskesmas, khususnya bagi ibu hamil dengan risiko hipertensi. Ini adalah langkah kecil yang bisa memberi dampak besar terhadap kesehatan ibu dan bayi,” harapnya.

Tim peneliti juga menyampaikan apresiasi atas kerja sama seluruh pihak puskesmas yang terlibat serta antusiasme para ibu hamil peserta kegiatan. Hasil penelitian ini akan didiseminasikan untuk menjadi bahan advokasi dan edukasi di tingkat layanan primer. (tha)