Cegah Stunting dari Hulu, Tim Dosen Poltekkes Palu Edukasi Remaja di Desa Bomba

Tim Pengabdian Masyarakat (PPDM) Poltekkes Kemenkes Palu menggulirkan program 8000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Desa Bomba, Kecamatan Marawola, pada Sabtu, (25/5/2026). FOTO: DOK. POLTEKKES KEMENKES PALU

SIGI,Trustednews.id– Pencegahan stunting tidak cukup dimulai saat kehamilan. Berangkat dari kesadaran itu, Tim Pengabdian Masyarakat (PPDM) Poltekkes Kemenkes Palu menggulirkan program 8000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Desa Bomba, Kecamatan Marawola, pada Sabtu, (25/5/2026).

Kegiatan yang menyasar langsung puluhan remaja ini dipimpin oleh Olkamien Jesdika Longgulo, SKEP.NS., MSC sebagai Ketua Tim dan didampingi anggota Tim yakni PROF. DR. Anna Veronica Pont, SKM, SH, MH, MM, Mardiani Mangun, SSIT., MPH, dan Zakiah Radjuleni. Mereka datang tidak hanya membawa materi ceramah, tetapi juga skrining kesehatan

Olkamien menjelaskan, Desa Bomba dipilih sebagai lokasi pengabdian karena prevalensi stunting di wilayah tersebut masih di atas rata-rata nasional. Selain akses layanan gizi yang terbatas, angka pernikahan dini di desa ini juga tergolong tinggi.

“Kami memetakan wilayah berdasarkan data Puskesmas. Desa Bomba memiliki tantangan besar, namun pemerintah desanya sangat responsif. Ini peluang baik untuk intervensi,” ujar Olkamien di sela-sela kegiatan.

Berbeda dari program stunting pada umumnya yang menyasar balita, tim Poltekkes justru fokus pada remaja. Menurut Olkamien, 80% risiko stunting ditentukan sejak masa remaja, terutama pada remaja putri yang kelak akan menjadi ibu.

“Jika seorang remaja putri mengalami anemia atau kekurangan gizi, cadangan gizinya saat hamil tidak optimal. Bayi yang dilahirkan berisiko stunting. Maka pencegahan harus dimulai dari hulu, yaitu dari remaja itu sendiri,” tegasnya.
Masyarakat mungkin sudah akrab dengan 1000 HPK (hari pertama kehidupan). Namun program ini memperluas cakupan menjadi 8000 HPK, yang mencakup:

  • 270 hari kehamilan
  • 730 hari pertama setelah lahir (usia 0–23 bulan)
  • dan sekitar 7.000 hari sebelumnya, yakni sejak masa remaja

“Implementasinya di Desa Bomba kami lakukan lewat edukasi gizi seimbang, pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), konseling kesehatan reproduksi, hingga pendampingan calon pengantin agar sehat sebelum hamil,” jelas Olkamien

Sebelum program berjalan, Tim menemukan sejumlah persoalan kesehatan remaja di Desa Bomba, antara lain:

  • Tingginya angka anemia pada remaja putri akibat pola makan yang tidak sesuai Gizi seimbang
  • Kurangnya pengetahuan tentang gizi seimbang dan risiko pernikahan dini
  • Masih adanya budaya yang membatasi asupan protein hewani pada remaja putri
    “Kami tidak hanya mengkritisi, tapi memberikan solusi. Makanya hari ini kami gelar Edukasi Isi Piringku yang mengedepankan jenis makanan yang ada di wilayah Desa Bomba dan sekitarnya yaitu telur ayam dan makanan yang mudah didapat warga setempat,” ujar Mardiani, salah satu anggota tim.

Agar pesan lebih mudah diterima, tim menggunakan metode peer group (kelompok teman sebaya). yang bertugas mengingatkan teman-temannya untuk rutin minum TTD.

Kolaborasi tidak hanya dengan remaja, tetapi juga dengan pemerintah Desa dan tenaga kesehatan setempat. Pemerintah Desa Bomba menyediakan tempat pelayanan Posyandu Remaja dan Kader Posyandu, serta tenaga kesehatan Bidan dan Gizi dari Puskesmas.

Program ini direncanakan berkelanjutan. Olkamien menargetkan prevalensi stunting di Desa Bomba turun minimal 5 persen pada 2027. Lebih dari itu, mereka ingin menciptakan ekosistem desa yang sadar 8000 HPK.

“Target kami tidak muluk-muluk, tapi realistis: tidak ada lagi pernikahan Anaki, 100 persen remaja putri bebas anemia, dan setiap keluarga mengutamakan gizi dalam belanja harian. Kami ingin Desa Bomba menjadi percontohan desa bebas stunting,” pungkas Olkamien.

Respon masyarakat pun terbilang positif. Para remaja antusias mengikuti sesi interaktif, sementara orang tua mengaku senang karena kegiatan ini mengisi waktu remaja dengan hal yang bermanfaat. (tha/*)