PALU,Trustednews.id – Bank Sulteng menegaskan posisinya sebagai salah satu Bank Pembangunan Daerah (BPD) paling solid di tengah tekanan industri perbankan yang terus meningkat. Kombinasi antara pertumbuhan dan kesehatan kinerja menjadikan bank daerah ini sebagai pengecualian di kelasnya.
Pengakuan atas ketangguhan Bank Sulteng tersebut datang dalam ajang The Asianpost BUMD Awards 2026 di Alila Hotel, Solo, Kamis (16/4/2026).
Dalam acara itu, Bank Sulteng meraih penghargaan sebagai “BPD dengan Kinerja Sangat Baik Tahun 2025 kategori KBMI 1.”
Penghargaan diserahkan langsung oleh Chairman Infobank Media Group, Eko B. Supriyanto, bersama Dewan Pakar Infobank, Sigit Pramono, kepada Direktur Utama Bank Sulteng, Ramiyatie.
Capaian ini menjadi signifikan jika merujuk pada peta besar BUMD nasional. Dari 1.037 BUMD yang beroperasi di Indonesia, hanya sekitar 650 entitas yang mampu mencetak laba sepanjang 2024. Sementara itu, sektor keuangan—khususnya BPD—menjadi tulang punggung dengan penguasaan aset mencapai 79,74% dari total Rp1.281,55 triliun.
Kontribusi BPD terhadap laba BUMD juga dominan, yakni 49,54% atau sekitar Rp13 triliun dari total laba Rp26,24 triliun. Artinya, ketahanan kinerja BPD tidak hanya krusial bagi daerah masing-masing, tetapi juga bagi stabilitas ekosistem BUMD secara nasional.
Dalam konteks itu, kinerja Bank Sulteng sepanjang 2025 menjadi sangat menonjol. Laba bersih tercatat Rp277,6 miliar, meningkat dari Rp242,2 miliar pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini dibarengi profitabilitas yang solid, dengan Return on Assets (ROA) sebesar 2,90% dan Return on Equity (ROE) 11,23%. Angka ini mencerminkan efisiensi dalam mengelola aset dan modal.
Ekspansi berjalan terukur. Total aset meningkat menjadi Rp13,65 triliun dari Rp12,92 triliun, sementara penyaluran kredit mencapai Rp8,55 triliun. Fungsi intermediasi tetap berjalan dalam koridor kehati-hatian.
Dari sisi pendanaan, kualitas membaik signifikan. Dana Pihak Ketiga (DPK) menyentuh Rp9,26 triliun, dengan porsi dana murah (Current Account and Savings Account/CASA) lebih dari separuh, yakni sekitar Rp4,94 triliun. Struktur ini memberikan ruang bagi bank untuk menekan biaya dana sekaligus menjaga likuiditas.
Pendapatan bunga tetap menjadi tulang punggung, dengan total Rp1,08 triliun. Setelah dikurangi beban bunga Rp405,6 miliar, bank mencatat pendapatan bunga bersih sekitar Rp677,6 miliar, dengan Net Interest Margin (NIM) terjaga di level 6,43%.
Struktur Kuat, Risiko Terkendali
Yang membuat fundamental Bank Sulteng semakin kokoh bukan hanya pertumbuhan, tetapi kualitasnya. Efisiensi operasional membaik, tercermin dari rasio BOPO sebesar 72,32% dan Cost to Income Ratio (CIR) di kisaran 58%. Ini menunjukkan pendapatan tidak tergerus lonjakan biaya.
Keseimbangan intermediasi terlihat dari Loan to Funding Ratio (LFR) di level 90,52%, mencerminkan ekspansi kredit yang sehat tanpa mengorbankan likuiditas.
Di sisi risiko, kualitas aset tetap terjaga. Rasio kredit bermasalah berada di angka NPL gross 2,72% dan NPL net 1,93%—jauh di bawah ambang batas regulator. Fondasi ini diperkuat permodalan sangat memadai dengan CAR sebesar 23,11%, memberi bantalan modal kuat untuk ekspansi ke depan.
Pada akhirnya, penghargaan ini menjadi penegasan bahwa kekuatan bank daerah tidak lagi semata ditentukan oleh skala, tetapi oleh kualitas struktur dan disiplin pengelolaan. Bank Sulteng membuktikan bahwa di kelas KBMI 1 sekalipun, kinerja solid dan berkelanjutan tetap mampu menjadi pembeda sekaligus membuka jalan menuju level berikutnya.*(ril)














