JAKARTA, TRUSTEDNEWS – Indonesia dan Uni Eropa (UE) semakin dekat menyelesaikan perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Hingga Juni 2025, lebih dari 90% naskah perjanjian telah disepakati, menyisakan beberapa isu teknis yang masih dibahas di tingkat negosiator utama dan kelompok kerja.
Kemajuan ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai bertemu dengan Komisioner Perdagangan dan Keamanan Ekonomi UE, Maroš Šefčovič, di Brussels pada 6 Juni lalu. Pemerintah menargetkan penandatanganan dokumen awal saat kunjungan Komisioner Šefčovič ke Indonesia pada September 2025, sebelum masuk tahap ratifikasi oleh 27 negara anggota UE dan Indonesia.
“Proses perundingan IEU-CEPA sudah masuk tahap akhir. Kami menunggu waktu yang tepat untuk pengumuman bersama oleh Presiden Prabowo dan Presiden UE,” ujar Airlangga dalam acara Diseminasi Perundingan IEU-CEPA, Jumat (13/6) di Jakarta.
Perdagangan bilateral antara Indonesia dan UE menunjukkan tren positif. Nilai perdagangan 2024 mencapai USD30,1 miliar, dengan surplus bagi Indonesia sebesar USD4,5 miliar, naik dari USD2,5 miliar pada 2023. UE menyumbang 6,5% dari total ekspor Indonesia atau sekitar USD17,35 miliar.
Komoditas utama ekspor Indonesia ke UE meliputi kelapa sawit dan turunannya, bijih tembaga, produk alas kaki, oleokimia, besi baja, dan produk perikanan. Dalam perundingan, Indonesia juga mendorong UE untuk memberikan akses pasar lebih luas bagi produk seperti ikan kaleng dan tuna, serta perlakuan preferensial serupa negara mitra lainnya.
Studi CSIS (2021) dan Komisi Eropa (2020) memperkirakan IEU-CEPA dapat meningkatkan PDB Indonesia sebesar 0,19%, menambah pendapatan nasional USD2,8 miliar, dan mendorong ekspor naik hingga 57,76% dalam tiga tahun.
“IEU-CEPA akan memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar Eropa. Indonesia perlu memastikan kesiapan industri dan harmonisasi kebijakan lintas sektor,” kata Airlangga.














