SIGI,trustednews.id– Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Untuk itu, Tim Dosen Program Studi D III Kebidanan, Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palu melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat bertajuk “Pengembangan Ratu Ceria (Remaja Tangguh Cegah Penderita Anemia)” di Desa Beka, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Rabu (6/8/2025).
Kegiatan ini dipimpin oleh Arie Maineny, S.ST., M.Kes selaku ketua tim, bersama anggota tim dosen Asrawaty, S.Tr.Keb., M.Tr.Keb dan Narmin, S.ST., M.Keb, serta melibatkan para mahasiswa dari Prodi D III Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palu.

Arie Maineny mengaku kegiatan ini, Tim dosen dan mahasiswa memberikan edukasi kepada remaja putri mengenai bahaya anemia serta upaya pencegahannya. Anemia sendiri merupakan kondisi ketika kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari 12 g/dl. Penyebab utamanya antara lain kekurangan zat besi dan vitamin, perdarahan menstruasi yang berlebihan, pola makan tidak seimbang, serta gangguan kesehatan lain.
Gejala anemia dapat dikenali dari kelelahan berlebihan, kulit pucat, pusing, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, hingga perubahan suasana hati seperti mudah marah.
“Remaja putri perlu dibekali pengetahuan tentang pentingnya konsumsi makanan bergizi, terutama yang kaya zat besi dan vitamin C, serta rutin mengonsumsi tablet tambah darah (TTD),” ungkap Arie Maineny dalam sesi edukasi.
Ia juga menekankan pentingnya konsumsi TTD secara rutin setiap minggu. “Sebaiknya TTD diminum bersamaan dengan air putih dan makanan atau minuman yang mengandung vitamin C agar penyerapan zat besinya lebih optimal. Selain itu, istirahat cukup dan hindari begadang juga sangat penting,” tambahnya.
Arie menjelaskan bahwa dampak anemia pada remaja putri tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek seperti kelelahan dan gangguan belajar, tetapi juga berdampak jangka panjang. “Remaja yang mengalami anemia berisiko mengalami gangguan menstruasi, mudah lelah, dan sulit konsentrasi. Dalam jangka panjang, hal ini bisa berdampak pada masa kehamilan kelak, seperti risiko keguguran, melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), hingga anak berisiko stunting,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan para remaja putri di Desa Beka semakin sadar akan pentingnya menjaga kesehatan sejak dini, khususnya dalam mencegah anemia yang dapat mengganggu kualitas hidup dan masa depan mereka.(tha)














