Poltekkes Kemenkes Palu Dampingi Puskesmas Taopa dan Moutong Percepat Penurunan Stunting

Poltekkes Disambut Antusias oleh Masyarakat

Tim Pendampingan INEY Bersama Ibu- Ibu Yang Menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Puskesmas Taopa, (09/08)

PARIGI MOUTONG,trustednews.id– Politeknik Kesehatan (Poltekkes) Kemenkes Palu memulai pendampingan Program Investing in Nutrition and Early Years (INEY) Fase II di Kabupaten Parigi Moutong, Jumat, 08/08/2025.

Menurut Kadar Ramadhan,S.K.M.,M.K.M., Ketua tim pendampingan, kegiatan ini difokuskan di dua lokus , yaitu UPTD Puskesmas Taopa dan UPTD Puskesmas Moutong, dengan tujuan mempercepat penurunan angka stunting melalui intervensi gizi spesifik. ” Karena Parigi Moutong capaian imunisasi zero dose tertinggi di Sulawesi Tengah” katanya.

Program INEY Fase II mendukung penurunan stunting melalui pendekatan multi sektor. Pada tahun ini, salah satu dukungan melalui program dalam Program Gizi Spesifik adalah pendampingan pencegahan dan penurunan stunting bersama perguruan tinggi, khususnya Politeknik Kesehatan Kemenkes RI (Poltekkes Kemenkes). Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Nomor 38 Tahun 2021, perguruan tinggi berkewajiban melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, salah satunya berkewajiban melaksanakan pengabdian masyarakat. Sejumlah 38 Poltekkes Kemenkes di 34 provinsi di Indonesia menjadi perpanjangan tangan pemerintah pusat ke masyarakat dalam implementasi program penurunan stunting.

Tim Pendampingan INEY Bersama Ibu Hamil di Posyandu Puskesmas Moutong (09/08).

Kadar Ramadhan, melanjutkan bahwa kehadiran tim Poltekkes disambut antusias oleh masyarakat, kader posyandu, dan tenaga kesehatan setempat.

“Yang saya rasakan adalah semangat masyarakat yang besar, tapi juga tantangan yang tidak kecil. Ada harapan di mata para kader posyandu, para ibu, dan tenaga kesehatan yang ingin sekali melihat anak-anak di sini tumbuh sehat dan kuat,” ujarnya.

Pendampingan mencakup berbagai kegiatan, mulai dari asistensi pemantauan pertumbuhan balita, pemberian makanan tambahan lokal sesuai standar, edukasi MP-ASI, hingga pemberian tablet tambah darah bagi ibu hamil dan remaja putri. Poltekkes juga fokus pada pelatihan dan peningkatan kapasitas kader posyandu serta pendampingan pencatatan dan pelaporan gizi di puskesmas.

Kadar Ramadhan menilai, perubahan perilaku menjadi tantangan utama di lapangan.

“Tantangan terbesar adalah mengubah kebiasaan lama yang sudah turun-temurun. Kami mengatasinya dengan pendekatan persuasif, memberi contoh, dan mendampingi langsung di posyandu maupun rumah warga,” jelasnya.

Ia juga menceritakan momen mengharukan saat mendampingi seorang balita yang awalnya memiliki berat badan di bawah standar, namun mengalami perbaikan signifikan setelah intervensi gizi.

“Senyum ibunya waktu itu sangat mengharukan. Itu menjadi energi bagi kami untuk terus bergerak,” tambahnya.

Kadar berharap program ini dapat membawa dampak nyata bagi penurunan angka stunting di Parigi Moutong.
“Saya berharap angka stunting turun signifikan dan masyarakat punya kesadaran untuk menjaga gizi tanpa harus menunggu ada program dari luar,” tuturnya.

Program INEY Fase II merupakan kerja sama Kementerian Kesehatan RI dengan Bank Dunia yang didukung hibah multi-donor Global Financing Facility (GFF) dan GAVI. Tahun 2025, pendampingan dilaksanakan di 80 kabupaten/kota di 34 provinsi, termasuk Parigi Moutong sebagai salah satu lokus prioritas di Sulawesi Tengah.

“Kami hadir untuk mendampingi, menguatkan, dan menumbuhkan harapan bagi generasi sehat di Parigi Moutong,” pungkas Kadar Ramadhan.(tha)