banner 728x250

Menag Ingatkan Guru Agama Buddha Tak Hanya Mengajar dengan Rasio

Menag Dorong Guru Agama Buddha Kedepankan Nilai Rasa dan Spiritualitas

Menag saat menghadiri kegiatan Apresiasi Guru Pendidikan Agama Buddha dan Pendidikan Keagamaan Buddha Tahun 2025 di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Minggu (21/12/2025). FOTO:DOK KEMENAG

JAKARTA,trustednews.id— Menteri Agama RI Nasaruddin Umar meminta para guru Pendidikan Agama Buddha tidak hanya mengandalkan pendekatan rasional dalam proses belajar mengajar, tetapi juga mengedepankan nilai rasa dan spiritualitas guna membentuk karakter peserta didik.

Hal tersebut disampaikan Menag saat menghadiri kegiatan Apresiasi Guru Pendidikan Agama Buddha dan Pendidikan Keagamaan Buddha Tahun 2025 di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Minggu (21/12/2025).

Menag menjelaskan, secara filosofis kata guru berasal dari bahasa Sanskerta, yakni gu yang berarti kegelapan dan ru yang bermakna cahaya. Makna tersebut menegaskan peran guru sebagai penerang yang membimbing murid keluar dari ketidaktahuan.

“Jika pendidikan hanya mengandalkan rasio, murid memang menjadi cerdas, tetapi berpotensi kehilangan kepekaan nurani. Guru harus mengajarkan ilmu dengan rasa, intelektual, dan spiritualitas agar lahir generasi berkarakter,” ujar Menag.

Dalam ajaran Buddha, Siddharta Gautama disebut sebagai teladan utama bagi para pendidik. Oleh karena itu, Menag mendorong para guru untuk menerapkan empat nilai luhur Brahmavihāra dalam mendidik, yakni mettā (cinta kasih), karuṇā (welas asih), mudita (empati), dan upekkhā (keseimbangan batin).

Menag juga menekankan peran guru sebagai kalyāṇamitta atau sahabat yang baik dalam membimbing siswa menuju jalan kebenaran. Selain itu, ia mendorong penerapan kurikulum berbasis ekologi yang selaras dengan doa universal umat Buddha, Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta atau “semoga semua makhluk berbahagia”.

Menurut Menag, konsep tersebut mencerminkan nilai moderasi beragama yang menekankan harmoni antara manusia dan alam. “Jika alam rusak, manusia juga akan terdampak. Kesadaran ini penting ditanamkan sejak dini,” katanya.

Pada kesempatan itu, Menag menyampaikan apresiasi kepada para guru, khususnya yang bertugas di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Ia menegaskan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan guru melalui berbagai bentuk apresiasi serta dukungan sarana penunjang pendidikan.

“Pengabdian para guru merupakan perjuangan kemanusiaan yang bernilai luhur dan patut diapresiasi,” pungkas Menag.**(tha)