Agustus 21, 2026

Tim Poltekkes Kemenkes Palu Dampingi Penanganan KLB Campak

Kasus Campak Merebak di Perbatasan Gorontalo–Sulteng

Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Palu Lakukan Pendampingan Kejadian Luar Biasa Campak di Dua PKM Kabupaten Parigi-Moutong, (30/10).

PARIGI MOUTONG, trustednews.id – Kasus campak kembali merebak di wilayah perbatasan Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan, sedikitnya 443 kasus campak dilaporkan terjadi di Kabupaten Pohuwato dan Marisa, Provinsi Gorontalo. Mobilitas masyarakat yang tinggi di daerah tambang dan jarak tempuh yang hanya sekitar dua jam dari Moutong membuat wilayah ini ikut berisiko terdampak.

Sebagai langkah antisipasi, tim dosen Poltekkes Kemenkes Palu yang terdiri dari Siti Hadijah Batjo, Ansar, Narmin, dan Diah Ayu Haritini turun langsung melakukan pendampingan di wilayah kerja Puskesmas Moutong dan Puskesmas Taopa, Kabupaten Parigi Moutong, pada Kamis (30/10/2025).

Kegiatan tersebut bertujuan memperkuat respons lapangan terhadap Kejadian Luar Biasa (KLB) campak sekaligus pemantauan kasus malaria yang juga meningkat di beberapa desa.

Kepala Puskesmas Moutong, Yasir Syam, SKM, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai langkah penanganan secara cepat dan terukur.

“Jika penderita dirawat di Puskesmas, kami berikan pengobatan sesuai gejala serta vitamin A. Selain itu, petugas surveilans dan jurim juga melakukan edukasi tentang pentingnya imunisasi di 20 desa terdampak,” ujar Yasir.

Ia menambahkan, koordinasi telah dilakukan bersama Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Parigi Moutong melalui pertemuan daring untuk pelaksanaan KORI Campak—vaksinasi ulang campak yang dijadwalkan berlangsung pada 3–16 November 2025.

“Hari ini menjadi hari terakhir persiapan sebelum pelaksanaan vaksinasi. Kami juga melibatkan OPD terkait untuk melakukan sosialisasi agar masyarakat memahami pentingnya imunisasi,” tambahnya.

Menurut Yasir, kasus campak banyak ditemukan di Desa Lobu, wilayah tambang dengan mobilitas masyarakat yang tinggi. Di lokasi yang sama, juga tercatat lebih dari 100 kasus malaria.

“Kami membentuk pos pengawasan dan melakukan PDRT (Penemuan dan Diagnosa Rumah Tangga) untuk memantau pergerakan masyarakat. Jika ditemukan kasus positif, langsung diberikan terapi oleh petugas Puskesmas,” jelasnya.

Berkat langkah cepat tersebut, angka kasus malaria kini mulai menurun. Moutong bahkan dijadikan percontohan penanganan terpadu antara campak dan malaria oleh Dinas Kesehatan.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Taopa, Nurlian, SKM, mengatakan pihaknya juga telah bersiaga untuk mencegah potensi penularan ke wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Kecamatan Moutong.

“Kami terus melakukan pengawasan dan sosialisasi agar masyarakat tetap waspada, terutama anak-anak yang belum lengkap imunisasinya,” kata Nurlian.

Di sisi lain, Siti Hadijah Batjo, tim dosen Poltekkes Kemenkes Palu, mengapresiasi langkah cepat dan sinergis yang dilakukan jajaran Puskesmas Moutong.

“Penanganan yang dilakukan sudah cukup komprehensif. Petugas tidak hanya memberikan pengobatan dan vitamin A bagi penderita, tetapi juga aktif mengedukasi masyarakat tentang pentingnya imunisasi,” ujarnya.

Ia menilai, koordinasi lintas sektor serta pelaksanaan KORI Campak menjadi langkah strategis dalam menekan penyebaran penyakit menular di wilayah perbatasan.

“Kegiatan vaksinasi ulang ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan cakupan imunisasi. Kami berharap OPD dan pemerintah desa ikut aktif dalam sosialisasi agar hasilnya maksimal,” jelasnya.

Selain campak, Siti Hadijah juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap kasus malaria di Desa Lobu.

“Desa Lobu termasuk wilayah rawan karena merupakan daerah tambang dengan mobilitas tinggi. Pos pengawasan yang dibentuk Puskesmas sangat membantu dalam deteksi dini dan pengendalian penyakit,” tambahnya.

Siti Hadijah menegaskan bahwa sinergi antara pemerintah daerah, tenaga kesehatan, dan masyarakat di Moutong bisa menjadi contoh praktik baik bagi wilayah lain di Sulawesi Tengah.

“Model kolaborasi seperti ini patut menjadi contoh. Cepat tanggap, terkoordinasi, dan berbasis edukasi masyarakat,” tutup Ketua Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palu ini. (tha)