DONGGALA,Trustednews.id – Puluhan warga Desa Salumbone, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, dibekali keterampilan menangani kegawatdaruratan jantung. Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan Praktik Kegawatdaruratan dan Manajemen Krisis yang digelar Program Studi Diploma Tiga Kebidanan Palu, Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palu, pada 13–17 April 2026.
Wakil Direktur I Poltekkes Kemenkes Palu, Nurjaya,S.Pd., M.Kes, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi pembelajaran berbasis lapangan. Fokus utamanya adalah kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kondisi darurat, khususnya yang berkaitan dengan jantung.
“SIGAP ini bukan sekadar pelatihan biasa. Ini adalah wujud nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Keberhasilan peningkatan kapasitas warga secara berkelanjutan hanya bisa tercapai jika ada kolaborasi erat antara dosen, mahasiswa, tenaga kesehatan, kader, dan pemerintah desa,” ujar Nurjaya, yang juga dosen Jurusan Gizi ini saat membuka kegiatan, Senin (13/4/2026).
Kegiatan mengusung tema “Penguatan Kesiapsiagaan Masyarakat dalam Penanganan Kegawatdaruratan Jantung melalui Manajemen Krisis Berbasis Komunitas”. Tema ini dipilih karena masih rendahnya kesiapsiagaan warga dalam menghadapi situasi krisis kesehatan, baik dalam keseharian maupun saat bencana. Kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu nifas, bayi, balita, hingga masyarakat umum menjadi sasaran utama.
Pendekatan yang digunakan berbasis komunitas. Masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek yang aktif menjaga kesehatan lingkungannya. Edukasi diberikan secara partisipatif melalui simulasi, diskusi, dan praktik langsung.
Tahapan kegiatan dimulai dengan pembekalan kepada mahasiswa mengenai konsep kegawatdaruratan, Basic Life Support (BLS), dan manajemen krisis kesehatan reproduksi. Selanjutnya, tim melakukan asesmen langsung di lokasi untuk mengidentifikasi potensi risiko dan kesiapan warga.
Tahap inti berupa praktik lapangan yang melibatkan ibu hamil, ibu dengan balita, wanita usia subur (WUS), anak sekolah, dan kader kesehatan. Materi yang diberikan meliputi tanda-tanda kegawatdaruratan jantung, langkah penanganan awal, serta pentingnya respons cepat dan tepat. Para kader kesehatan juga dilatih deteksi dini, pertolongan pertama, hingga mekanisme rujukan efektif.
Kepala Desa Salumbone, Didi Kusbandi, menyambut baik dan memfasilitasi penuh kegiatan ini. Menurutnya, inisiatif tersebut sangat membantu warganya yang selama ini minim akses terhadap pelatihan darurat kesehatan.
Antusiasme tinggi juga ditunjukkan para kader dan tenaga kesehatan setempat. Asnawati, salah satu kader kesehatan, mengaku pelatihan ini mengubah cara pandangnya dalam menghadapi keadaan genting.
“Pelatihan ini sangat membantu kami dalam memahami apa yang harus dilakukan ketika terjadi kondisi darurat. Kami tidak panik lagi dan bisa memberikan pertolongan awal, baik terhadap diri sendiri maupun orang sekitar,” ungkap Asnawati.
Hal senada disampaikan Bidan Desa Salumbone, Rosnita. Ia merasa bersyukur karena warganya kini mendapat edukasi langsung tentang penanganan awal kegawatdaruratan.
“Kader kesehatan juga jadi lebih percaya diri menjalankan peran sebagai penghubung antara masyarakat dan tenaga kesehatan dalam situasi darurat,” tambah Rosnita.
Melalui program ini, Poltekkes Kemenkes Palu berharap masyarakat Desa Salumbone memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik dalam menghadapi kegawatdaruratan jantung maupun kondisi krisis lainnya. Program ini juga diharapkan dapat menjadi model intervensi berbasis komunitas untuk menurunkan risiko komplikasi dan kematian akibat keterlambatan penanganan. (*)
















