DONGGALA, trustednews.id – Upaya menekan angka kematian akibat serangan jantung di luar fasilitas kesehatan terus digencarkan. Program Studi Pendidikan Profesi Ners, Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Palu, menggelar pengabdian masyarakat berupa pelatihan pertolongan pertama serangan jantung di Desa Nupabomba, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Minggu (06/04).
Kegiatan bertajuk Pelatihan Pertolongan Pertama Serangan Jantung dan Bantuan Hidup Dasar (Basic Life Support/BLS) ini menyasar masyarakat umum, kader kesehatan, hingga aparat desa setempat.
Dalam sambutannya, Dr. Andi Fatmawati Syamsu, M.Kep, Ns, Sp.Kep.An menegaskan pentingnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kesehatan jantung sekaligus kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.
“Jantung adalah organ vital yang bekerja tanpa henti, namun sering diabaikan. Serangan jantung bisa datang tiba-tiba, sehingga kesiapan masyarakat menjadi kunci utama penyelamatan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan lima langkah sederhana menjaga kesehatan jantung, yakni menerapkan pola makan sehat, rutin beraktivitas fisik minimal 150 menit per minggu, mengontrol tekanan darah, berhenti merokok, serta mengelola stres.
“Mulai dari langkah kecil, dari diri sendiri, dan dari sekarang. Itu kunci menjaga jantung tetap sehat,” tambahnya.
Pelatihan inti dipandu tim dosen keperawatan, di antaranya Ismunandar, S.Kep, Ns., M.Kes; Supirno, S.Kep, Ns., M.Kep; Dr. Helena Pangaribuan; Fitria Masulili, M.Kep, Sp.Kep.An; serta Alfrida Samuel Rabung, S.Kep, Ns., M.Kep.
Peserta dibekali pemahaman mengenali gejala awal serangan jantung, termasuk gejala tidak khas pada perempuan dan lansia. Selain itu, materi Bantuan Hidup Dasar mengacu pada standar American Heart Association (AHA) 2020, mulai dari pengecekan respons korban hingga teknik resusitasi jantung paru (RJP).
Dalam sesi praktik, peserta dilatih melakukan kompresi dada dengan kedalaman 5–6 cm dan kecepatan 100–120 kali per menit, serta ventilasi bantuan. Simulasi dilakukan menggunakan manikin dengan pendampingan langsung oleh tim instruktur.
“Lebih baik melakukan pertolongan meski tidak sempurna, daripada tidak melakukan apa pun. Dalam kondisi darurat, setiap detik sangat berharga,” tegas Ismunandar saat demonstrasi.
Sementara itu, Ketua Program Studi Ners, Dr. Helena Pangaribuan, menyampaikan bahwa kegiatan ini akan berlanjut melalui pembentukan komunitas “Sahabat Jantung” serta pembagian kartu panduan Bantuan Hidup Dasar kepada warga.
“Kami ingin masyarakat memiliki kemampuan dasar menyelamatkan nyawa. Dengan pengetahuan ini, siapa pun bisa menjadi penolong pertama saat keadaan darurat,” pungkasnya.
Kepala Desa Nupabomba turut mengapresiasi kegiatan tersebut dan menilai pelatihan ini sangat bermanfaat bagi warganya.
“Kami sangat berterima kasih kepada Poltekkes Kemenkes Palu yang telah memilih Desa Nupabomba sebagai lokasi pengabdian masyarakat. Kegiatan ini sangat membantu warga kami dalam memahami cara menangani kondisi darurat, khususnya serangan jantung,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat.
“Harapan kami, ilmu yang didapat hari ini bisa diterapkan dan disebarluaskan kepada warga lainnya, sehingga masyarakat kami semakin siap menghadapi situasi darurat kesehatan,” tambahnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Poltekkes Kemenkes Palu dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat peran warga sebagai garda terdepan dalam penanganan kegawatdaruratan. (wid)
















