banner 728x250

Poltekkes Kemenkes Palu Monev Program Imunisasi “Iney” Fase II

Penguatan Dari Lintas Sektor Bidang Pendidikan

Tim Monev Program Imunisasi "Iney" Fase II yang di kantor di Puskesmas Parigi, Parigi Moutong, Jumat, (28/11). FOTO : DOK. POLTEKKES KEMENKES PALU

PARIGI-MOUTONG, trustednews.id – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat terus berupaya meningkatkan cakupan dan menekan angka Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI). Upaya ini dievaluasi dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi (Monev) Program Imunisasi “Iney” Fase II yang di kantor Dinkes Parigi Moutong, Jumat, (28/11).

Kegiatan Monev tersebut melibatkan tim dari berbagai instansi, antara lain Elvira Faisal, SKM., MPH dan Narmin, S.ST., M.Keb dari Poltekkes Kemenkes Palu, serta Nur Hikma, SKM, Pengelola Data dan Informasi Imunisasi Dinkes Provinsi Sulawesi Tengah.

Menurut Nurhasni, SKM., MAP, Kepala Seksi Imunisasi dan Surveilens Dinkes Kabupaten Parigi Moutong, tujuan Monev adalah untuk meninjau capaian, mengidentifikasi kendala, serta mengevaluasi pelaksanaan imunisasi di lapangan.

“Kegiatan Monev ini dilakukan untuk melihat capaian, kendala, serta bagaimana pelaksanaan imunisasi tersebut sehingga dapat dirumuskan solusi yang dapat diambil,” terang Nurhasni.

Lebih lanjut, Nurhasni menekankan pentingnya komunikasi intensif dengan petugas di lapangan. “Kami selalu berupaya melakukan komunikasi intens dengan petugas imunisasi kami yang ada di Puskesmas se-wilayah Kabupaten Parigi Moutong untuk meminimalisir angka KIPI dan peningkatan cakupan imunisasi,” pungkasnya.

Di lokasi berbeda, tantangan nyata diungkapkan oleh Martinus, petugas imunisasi Puskesmas Parigi. Ia menyatakan bahwa angka zero dose atau anak yang belum mendapat imunisasi sama sekali di wilayah kerjanya masih sangat tinggi.

“Hal ini dikarenakan masih banyak masyarakat yang anti vaksin, walaupun pihak promkes Puskesmas dan Dinkes kami sudah melakukan sosialisasi dengan melibatkan lintas sektor terkait,” ujarnya.

Martinus juga berbagi pengalaman sulitnya menjadi juru imunisasi (jurim). “Ketika datang mau menyuntik bayi, balita, maupun anak sekolah, kehadiran kami sering ditolak. Kami sering mendapat penolakan baik di sekolah yang merupakan sasaran vaksinasi maupun di beberapa posyandu,” tuturnya.

Berbeda dengan kondisi di Puskesmas Parigi, Puskesmas Pangi justru menunjukkan hasil yang menggembirakan. Sarlian, SKM, Kepala Puskesmas Pangi, mengungkapkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap program imunisasi.

“Masyarakat kami sangat antusias dengan pelaksanaan Posyandu maupun vaksinasi yang dilakukan di sekolah. Hal ini dapat terlihat dengan angka zero dose imunisasinya yang sangat rendah,” jelas Sarlian.

Keberhasilan ini, menurut Sarlian, tidak lepas dari kerja tim Puskesmas. “Utamanya bagian Promosi Kesehatan (Promkes) yang sangat aktif melakukan sosialisasi ke masyarakat dan rajin melakukan advokasi ke lintas sektor terkait,” pungkasnya.

Merespons temuan di lapangan, Elvira Faisal, salah satu tim pemantau dari Poltekkes Kemenkes Palu, menyoroti strategi kunci untuk meningkatkan penerimaan imunisasi.

“Salah satu kunci keberhasilan dari pelaksanaan imunisasi adalah penguatan dari lintas sektor bidang Pendidikan, Keagamaan, Babinkamtibmas, Satpol PP, serta keterlibatan influencer yang kuat,” jelas Elvira.

Menurutnya, kolaborasi dengan pihak-pihak tersebut dapat memengaruhi pola pikir masyarakat. “Apalagi masyarakat kita saat ini sangat tinggi aktivitas di media sosial. Peran influencer dan tokoh masyarakat menjadi sangat vital untuk menyebarkan informasi yang benar tentang imunisasi,” tutupnya.

Evaluasi ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi Dinkes Parigi Moutong untuk menyusun strategi yang lebih tepat sasaran dan kolaboratif dalam menggalakkan program imunisasi, mengatasi zero dose, dan menangkal misinformasi di masyarakat.**(tha)