PALU, trustednews.id– Kaki menapak tanah lembap, napas berpacu dengan kabut, dan detak jantung berpadu dengan gemuruh hutan. Sebelas pelari dari Komunitas Info Trail Run Palu menantang batas diri dalam latihan ekstrem sejauh 50 kilometer di jalur pegunungan Matantimali dan sekitarnya, Minggu (20/10).
Latihan ini bukan sekadar lari biasa. Mereka sedang menempah mental dan fisik menghadapi dua ajang ultra trail bergengsi: Latimojong Ultra Trail dan Siksorogo Ultra Trail, masing-masing dengan kategori jarak 80 km dan 120 km.
Start dilakukan dari Desa Uwemanja pukul 08.00 pagi, dan garis finish baru mereka cicipi pukul 23.00 malam—tepat 15 jam kemudian. Sepanjang perjalanan, para pelari harus melewati jalur terjal, tanjakan curam, kabut tebal, serta jalur licin khas hutan pegunungan Sulawesi Tengah.
“Ini bukan soal kecepatan, tapi tentang ketahanan, kekuatan mental, dan bagaimana menikmati setiap detik perjalanan di alam bebas,” ujar Hary Akbar dengan wajah penuh peluh namun senyum lebar setelah finish.
Hary Akbar, menggambarkan perjalanan itu bak pertempuran sunyi antara manusia dan dirinya sendiri.
“Kami tidak melawan gunung, karena gunung tak pernah menantang. Kami hanya menaklukkan rasa lelah, ragu, dan takut di dalam diri kami sendiri,” ujarnya dengan tatapan menembus kabut Matantimali yang mulai turun menjelang malam.
Masih kata Hary, di titik-titik tertinggi jalur, kabut menelan pandangan hanya beberapa meter ke depan. Nafas berat, kaki gemetar, namun semangat tak padam.
“Ada saat di mana langkah terasa buntu, tapi di sanalah jiwa kami diuji. Di antara dingin yang menggigit, kami menemukan arti kata tangguh,” tambahnya.
Zulkifli, salah satu peserta yang ikut menuntaskan lintasan ekstrem itu, mengungkapkan bahwa latihan tersebut bukan sekadar olahraga, tetapi perjalanan spiritual melintasi batas diri.
“Dengan semangat lari untuk hidup, bukan hidup untuk lari, kami belajar bahwa setiap langkah di jalur pegunungan adalah pelajaran tentang kesabaran dan keteguhan,” ujarnya sambil mengusap keringat yang masih menetes di wajah.
Ia menatap jauh ke arah lembah Matantimali yang mulai diselimuti kabut.“Gunung adalah guru, dan jalur adalah ujian. Di sana kami belajar merendah, menghargai alam, dan memahami arti ketangguhan yang sesungguhnya,” tuturnya dengan suara bergetar.
Bagi Zulkifli, perjalanan selama 15 jam itu bukan sekadar latihan fisik, tetapi ziarah jiwa, mencari batas, lalu melampauinya.“Di antara dingin dan gelap, kami justru menemukan terang. Di punggung gunung, kami bertemu diri kami yang sebenarnya,” pungkasnya.(tha)








