PALU,trustednews– Di tengah riuhnya teriakan mahasiswa yang menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor DPRD Sulawesi Tengah, Jalan Sam Ratulangi, Senin (25/8/2025).
Hadir sebuah pemandangan yang berbeda. Seorang ina—sapaan khas masyarakat Kaili untuk ibu—berjalan santai dengan pikulan penuh pisang dan kacang dagangannya, menyusuri kerumunan massa aksi.
Dengan langkah tenang, ina tersebut tetap menawarkan hasil dagangannya kepada para mahasiswa yang duduk memenuhi badan jalan. Sesekali, ia berhenti ketika ada yang memanggil untuk membeli pisang atau kacang. Di tengah panas terik dan kepulan asap ban, ia tetap menjaga senyum, seakan tak terpengaruh hiruk pikuk demonstrasi.
Momen ini menjadi potret sederhana bagaimana kehidupan tetap berjalan, bahkan ketika suasana kota diliputi ketegangan. Bagi ina penjual keliling, setiap hari adalah perjuangan mencari nafkah, entah di pasar, perkampungan, maupun di tengah kerumunan demonstrasi.
“Biasa saja, nak. Selama masih bisa lewat, saya tetap jualan. Kalau ada rezeki, alhamdulillah,” ujarnya singkat sambil mengatur pikulan yang berat di pundaknya.
Kehadirannya seolah memberi warna lain di tengah aksi mahasiswa yang mengusung isu evaluasi kebijakan pemerintah. Para mahasiswa pun menyambut ramah, bahkan beberapa ada yang membeli dagangannya.
Pemandangan ina penjual pisang dan kacang ini menjadi pengingat bahwa di balik dinamika sosial-politik, ada kehidupan rakyat kecil yang terus berjuang dengan caranya sendiri. Mereka tetap berjalan, di tengah arus besar peristiwa yang kadang penuh gejolak.(tha)








