DONGGALA, trustednews.id — Tim dosen dari Politeknik Kesehatan Kemenkes Palu yang diketuai oleh Prof. Anna Veronica Pont., SKM, SH, MH., MM bersama tiga dosen lainnya, yakni Mardiani Mangun, SSiT., MPH, Olkamien J. Longulo, S.Kep., Ns., MSc, dan Putu Cendriasih, SSiT., M.Kes, melaksanakan kegiatan Pengabdian Masyarakat Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) di Desa Wombo Kalonggo, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, pada 24 hingga 26 Juni 2025.
Program ini mengusung pendekatan Interprofessional Education (IPE) Family-Based Practice, sebagai strategi kolaboratif antar tenaga kesehatan dalam upaya pencegahan dan penanggulangan stunting secara holistik dan berkelanjutan.
Ketua tim Prof. Anna Veronica Pont menekankan bahwa pendekatan IPE yang diterapkan melibatkan kolaborasi lintas profesi—terutama kebidanan dan gizi—untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan.
“Implementasi IPE dengan basis keluarga dan kolaborasi profesi sangat efektif dalam meningkatkan kesadaran dan kapasitas tenaga kesehatan maupun masyarakat dalam menangani masalah stunting,” ujarnya.
Empat domain utama dalam IPE yang diterapkan meliputi Etika dan Nilai, Peran dan Tanggung Jawab, Komunikasi, serta Kerja Sama Antarprofesi.
Prof. Anna menyebutkan, dengan koordinasi dan komunikasi yang baik antar profesi, masing-masing anggota tim dapat memaksimalkan perannya sehingga tercipta pelayanan kesehatan yang menyeluruh dan berorientasi pada kebutuhan pasien serta keluarga.”Tujuan Khusus Program ini secara khusus bertujuan untuk memberikan edukasi mengenai isi piringku, serta menyegarkan pelatihan kader mengenai pola asuh dan pola makan anak” ujarnya.
Masih katanya program ini meningkatkan keterampilan kader dalam mendampingi keluarga balita dalam menerapkan pola asuh dan makan yang sehat.
“Mendorong keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan stunting di lingkungan rumah tangga dan membantu kader menyusun rencana tindak lanjut dalam kegiatan posyandu secara berkelanjutan” ungkapnya.
Prof. Anna mengakui bahwa peran keluarga sangat krusial, bahkan sejak masa pranikah. “Pencegahan stunting harus dimulai sejak dini, termasuk pada masa kehamilan, bayi, hingga usia balita” terangnya.
Peningkatan Kapasitas Kader dan Kolaborasi PuskesmasDalam pelaksanaannya, kegiatan ini meliputi edukasi, pelatihan, dan pendampingan yang melibatkan kader Posyandu, mahasiswa KKN, serta tenaga kesehatan dari Puskesmas Wani. Para kader diberi pelatihan dasar mengenai stunting, kesehatan ibu dan balita, serta teknik pendataan dan pemantauan balita.
Kegiatan dilengkapi dengan pretest dan posttest guna mengukur peningkatan pengetahuan kader dan keluarga. Selain itu, dilakukan praktik pendampingan keluarga serta pemberian makanan tambahan kepada bayi.
Kegiatan Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Palu disambut baik oleh warga Wombo.
Salah satu warga Desa Wombo Kalonggo, menyampaikan apresiasi dan harapannya atas kehadiran tim dosen Poltekkes Kemenkes Palu.
“Kami sangat terbantu dengan pelatihan dan edukasi dari ibu-ibu dosen. Sekarang kami lebih paham bagaimana merawat anak agar tidak stunting. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus dilanjutkan,” ujarnya.
Dengan sinergi antara akademisi, tenaga kesehatan, kader posyandu, dan masyarakat, kegiatan ini menjadi langkah konkret dalam upaya memperkuat ketahanan gizi keluarga dan menurunkan angka stunting di wilayah Donggala, khususnya Desa Wombo Kalonggo.(tha)








