PALU,Trustednews.id– Menjadi bidan profesional tidak cukup hanya dengan menguasai ilmu kebidanan. Integritas, empati, kepercayaan diri hingga kemampuan menghadapi situasi tak terduga juga menjadi bagian penting yang perlu dimiliki sejak mahasiswa.
Hal tersebut menjadi fokus kegiatan Praktik Pengembangan Karakter Mahasiswa Program Studi DIII Kebidanan, Jurusan Kebidanan Poltekkes Kemenkes Palu Tahun 2026 yang digelar selama dua hari.
Mengangkat tema “Bidan Cerdas, Bidan Berkarakter, Bijak Teknologi, Profesional dalam Aksi”, kegiatan hari pertama, Jumat (11/9/2026), diisi dengan penguatan karakter melalui materi psikologi serta latihan dasar bela diri jiujitsu.
Materi psikologi disampaikan oleh Lian Vanessa, yang memberikan pembekalan mengenai pengembangan kepribadian, motivasi diri, integritas, empati, tanggung jawab, serta kesiapan mahasiswa menghadapi tantangan pendidikan dan dunia kerja sebagai calon bidan profesional.
Ketua Prodi D3 Kebidanan Palu, Niluh Nita Silfia, SST, M. Keb, mengatakan pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa sebelum mereka terjun memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Menurutnya, seorang bidan tidak hanya dituntut memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga harus mampu menunjukkan sikap profesional, empati, tanggung jawab dan kemampuan berkomunikasi yang baik.
“Mahasiswa kami dipersiapkan bukan hanya dari sisi kompetensi kebidanan, tetapi juga karakter. Mereka nantinya akan berhadapan langsung dengan perempuan, bayi, keluarga dan masyarakat, sehingga membutuhkan pribadi yang tangguh, empati dan profesional,” ujar Nita
Setelah sesi materi dan diskusi, mahasiswa kemudian mengikuti latihan dasar bela diri jujitsu yang diberikan oleh Institut Jiujitsu Indonesia (IJI) Kota Palu.
Latihan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun karakter mahasiswa yang tangguh, percaya diri dan tegas dalam mengambil keputusan. Selain itu, latihan fisik juga diarahkan untuk meningkatkan keseimbangan serta daya tahan tubuh yang mendukung aktivitas mahasiswa ketika nantinya menjalankan tugas sebagai tenaga kebidanan.
Nita menjelaskan, kegiatan bela diri tidak semata-mata dimaknai sebagai kemampuan untuk menghadapi ancaman fisik, tetapi juga sebagai sarana membangun keberanian, kedisiplinan, konsentrasi dan kesiapan menghadapi situasi yang membutuhkan ketenangan dalam mengambil keputusan.
“Melalui latihan ini kami ingin mahasiswa memiliki kepercayaan diri, kedisiplinan dan ketangguhan. Karakter tersebut sangat dibutuhkan ketika mereka menghadapi berbagai situasi di lapangan,” katanya.
Kegiatan ini dirancang tidak sekadar sebagai aktivitas pembelajaran di ruang kelas. Mahasiswa juga diajak untuk memahami bahwa profesi bidan membutuhkan kesiapan fisik, mental dan emosional ketika berhadapan dengan berbagai kondisi di lapangan.
Melalui rangkaian materi, diskusi dan latihan bela diri tersebut, mahasiswa diharapkan semakin memahami pentingnya karakter dalam menjalankan profesi kebidanan, termasuk menjaga etika, bertanggung jawab, mampu bekerja sama dan memiliki jiwa melayani. (wdy)








