Agustus 18, 2026

Poltekkes Kemenkes Palu Laksanakan Pengabdian PPDM di Pantoloan

Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan Remaja Putri untuk Tekan Fatherless

Tim dosen melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) dengan mengusung tema “Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Remaja Putri Awal sebagai Langkah Strategis Mengatasi Fatherless di Indonesia.”di Wilayah Kerja Puskesmas Pantoloan, (27/04). FOTO: DOK. POLTEKKES KEMENKES PALU.

PALU, Trustednews.id — Upaya mengatasi fenomena fatherless di Indonesia terus didorong melalui berbagai pendekatan edukatif. Salah satunya dilakukan oleh tim dosen melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat skema Program Pengembangan Desa Mitra (PPDM) dengan mengusung tema “Keterlibatan Ayah dalam Pengasuhan Remaja Putri Awal sebagai Langkah Strategis Mengatasi Fatherless di Indonesia.”

Kegiatan ini dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Pantoloan, Kota Palu, tepatnya di tiga posyandu remaja, yakni Posyandu Ceria di Pantoloan, Posyandu Salarata di Pantoloan Boya, dan Posyandu Sabara di Baiya. Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara bertahap pada 11 April, 19 April, dan 26 April 2026, dengan melibatkan total 30 remaja putri sebagai peserta edukasi.

Tim pengabdian diketuai oleh Niluh Nita Silfia, SST., M.Keb, bersama anggota Hastuti Usman, SST., M.Keb dan Narmin, SST., M.Keb. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut didukung oleh tenaga kesehatan setempat, yakni Bidan Rista Erviana sebagai penanggung jawab posyandu remaja, yang dibantu oleh Bidan Firginia dari Puskesmas Pantoloan.

Ketua tim, Niluh Nita Silfia, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk intervensi edukatif yang menyasar remaja putri sebagai kelompok rentan terhadap dampak kurangnya peran ayah dalam keluarga. Menurutnya, isu fatherless bukan hanya persoalan keluarga, tetapi telah menjadi tantangan sosial yang berdampak luas terhadap perkembangan generasi muda.

“Fatherless adalah kondisi ketika anak kehilangan peran ayah, baik karena ketidakhadiran fisik maupun kurangnya keterlibatan emosional dan sosial. Ini bisa disebabkan oleh perceraian, perpisahan, kematian, hingga tuntutan pekerjaan yang membuat ayah minim berinteraksi dengan anak,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi tersebut kerap menimbulkan berbagai dampak serius, terutama pada remaja putri. Secara psikologis, anak cenderung mengalami rendahnya kepercayaan diri, kecemasan, bahkan depresi. Dari sisi sosial, mereka berpotensi mengalami kesulitan membangun relasi yang sehat serta lebih rentan terhadap pengaruh negatif lingkungan.

“Dalam aspek akademik pun, ketidakhadiran ayah dapat memengaruhi motivasi belajar dan konsistensi anak, sehingga berdampak pada pencapaian yang kurang optimal,” tambahnya.

Melalui kegiatan ini, tim dosen memberikan edukasi komprehensif mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, khususnya pada masa remaja awal. Materi yang disampaikan mencakup peran ayah sebagai figur pelindung, teladan nilai dan moral, serta sumber dukungan emosional yang mampu membangun rasa aman bagi anak.

Kehadiran ayah yang aktif, lanjut Niluh, terbukti memiliki kontribusi besar dalam membentuk identitas diri remaja putri. Dukungan ayah dalam aktivitas sehari-hari dapat membantu anak membangun citra diri positif, meningkatkan keberanian menghadapi tantangan, serta memperkuat ketahanan mental.

Selain itu, keterlibatan ayah juga dinilai efektif dalam mencegah berbagai risiko sosial, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan zat, hingga masalah kesehatan mental. Ayah yang hadir secara emosional mampu menjadi benteng awal dalam melindungi anak dari berbagai potensi penyimpangan perilaku.

Dalam sesi edukasi, peserta juga diberikan panduan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh ayah maupun keluarga. Di antaranya adalah pentingnya meluangkan waktu berkualitas bersama anak, mendengarkan cerita dan perasaan anak dengan empati, serta terlibat dalam aktivitas pendidikan maupun hobi anak.

Tim pengabdian juga menekankan bahwa pengasuhan bukan hanya tanggung jawab ibu, melainkan membutuhkan peran aktif ayah sebagai bagian dari sistem keluarga yang seimbang. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi lintas sektor, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga pemerintah, dalam memperkuat kesadaran akan pentingnya peran ayah.

“Perubahan sosial harus dimulai dari keluarga. Ketika ayah hadir tidak hanya secara fisik tetapi juga emosional, maka anak akan tumbuh dengan rasa aman, percaya diri, dan memiliki fondasi nilai yang kuat,” tegasnya.

Kegiatan ini mendapat respons positif dari para peserta yang terlihat antusias mengikuti setiap sesi edukasi. Para remaja tidak hanya mendapatkan pemahaman baru, tetapi juga ruang diskusi untuk berbagi pengalaman terkait hubungan dengan orang tua, khususnya figur ayah.

Melalui program ini, tim dosen berharap dapat mendorong lahirnya generasi remaja putri yang lebih berdaya, sehat secara emosional, serta mampu menghadapi tantangan sosial di masa depan. Selain itu, kegiatan ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya kehadiran ayah dalam pengasuhan anak.

Sebagai penutup, tim pengabdian menyampaikan pesan sederhana namun bermakna kepada para ayah. Kehadiran ayah tidak hanya diukur dari kemampuan memenuhi kebutuhan materi, tetapi juga dari sejauh mana ia hadir sebagai sumber cinta, perhatian, dan inspirasi bagi anak.

“Anak tidak hanya mengingat apa yang diberikan ayah, tetapi juga bagaimana ayah hadir dalam setiap fase kehidupannya,” pungkas Niluh.**