Oktober 29, 2026

Diduga Alami Pelecehan Rasis, Vinicius Junior: “Rasis Adalah Pengecut”

Aib Bagi Sepak Bola

Vinicius Junior Selebarasi di Sudut Lapangan, usai mencetak Gol ke Gawang Benfica di Babak 16 Besar Liga Play Off Liga Champions 2026,(18/02). FOTO : DOK. REAL MADRID

LISBON, trustednews.id – Penyerang Vinicius Junior mengunggah pesan keras di media sosial setelah diduga mengalami pelecehan bernuansa rasis dalam laga Liga Champions UEFA antara Real Madrid melawan Benfica di Lisbon, (18/02).

Pemain asal Brasil berusia 25 tahun itu sempat meninggalkan lapangan sementara usai melaporkan insiden tersebut kepada wasit. Pertandingan pun dihentikan sekitar 10 menit sesuai protokol UEFA sebelum akhirnya dilanjutkan. Vinicius kembali bermain hingga laga berakhir dan mengantar Real Madrid menang tipis 1-0.

Insiden itu terjadi tak lama setelah Vinicius mencetak gol penentu kemenangan lewat aksi individu pada awal babak kedua. Saat merayakan gol di depan pendukung tuan rumah, ia terlihat terpancing emosi oleh ucapan dari arah bangku cadangan Benfica dan langsung menyampaikan keluhannya kepada pengadil lapangan. Klub asal Spanyol itu kemudian mengklaim pihak yang dilaporkan adalah pemain sayap Benfica, Gianluca Prestianni.

Usai pertandingan, Vinicius menyampaikan pernyataan tegas melalui Instagram Story berbahasa Portugis. Ia menyebut rasisme sebagai tindakan pengecut dan menyesalkan lemahnya penegakan protokol. Vinicius juga mengaku menerima kartu kuning hanya karena selebrasi gol, sementara insiden yang ia laporkan tidak berujung sanksi berarti.

“Saya tidak suka berada dalam situasi seperti ini, apalagi setelah kemenangan besar ketika seharusnya fokus tertuju pada Real Madrid. Namun, ini perlu disampaikan,” tulis Vinicius.

Pernyataan Vinicius memicu reaksi beragam. Pelatih Benfica, Jose Mourinho, menuai kritik setelah menyiratkan bahwa selebrasi Vinicius bisa memicu situasi tersebut. Kepada Amazon Prime, Mourinho menyebut ia memilih bersikap netral karena menerima versi cerita berbeda dari kedua pihak.

Di sisi lain, bek kanan Real Madrid, Trent Alexander-Arnold, mengecam keras insiden tersebut. Ia menyebut apa yang terjadi sebagai “aib bagi sepak bola” dan menegaskan tidak ada tempat bagi rasisme, baik di lapangan maupun di masyarakat.

Komentar Mourinho juga dikritik mantan gelandang Real Madrid, Clarence Seedorf, yang bertugas sebagai komentator laga. Seedorf menilai pernyataan itu berbahaya karena berpotensi membenarkan pelecehan rasial dalam kondisi apa pun.

Vinicius sendiri telah lama bersuara lantang melawan rasisme di sepak bola Spanyol. Pada Juni 2024, tiga suporter Valencia divonis delapan bulan penjara atas pelecehan rasial terhadapnya dalam laga LaLiga 2023, menjadi putusan pertama dengan kasus serupa di negara tersebut.

Kasus terbaru ini kembali menegaskan sorotan terhadap komitmen sepak bola Eropa dalam memberantas rasisme, sekaligus menempatkan perlindungan pemain sebagai isu yang belum sepenuhnya tuntas.**