Oktober 28, 2026

Poltekkes Kemenkes Palu Edukasi Manfaat Jus Kelor Pada Ibu Hamil

Kelor Sangat Potensial Dalam Menunjang Kesehatan Ibu Hamil dan Menyusui.

Tim Dosen Poltekkes Kemenkes Palu Mengedukasi Ibu Hamil Dalam Pengolahan dan Manfaat Jus Daun Kelor di Desa Guntarano, Donggala, (04/08)

DONGGALA,trustednews.id — Tim dosen Poltekkes Kemenkes Palu memperkenalkan inovasi pemanfaatan jus daun kelor bagi ibu hamil dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Pemanfaatan Jus Daun Kelor pada Ibu Hamil” di Desa Guntarano, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, Senin (4/8/2025).

Kegiatan ini dipimpin oleh Sri Restu Tempali, S.Kep., Ns., MSc selaku ketua tim, bersama dua anggota yakni Niluh Nita Silfia, SST., M.Keb dan Narmin, SST., M.Keb. Mereka menyasar ibu hamil, kader kesehatan, dan bidan desa sebagai peserta utama dalam pelatihan ini.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, khususnya ibu hamil, dengan memanfaatkan bahan lokal yang kaya nutrisi seperti kelor, yang telah terbukti membantu meningkatkan kadar hemoglobin dan produksi ASI,” ujar Sri Restu Tempali saat membuka kegiatan.

Dalam pelatihan ini kata Sri Restu peserta diajarkan cara membuat jus daun kelor yang praktis. “Bahan yang digunakan antara lain 40 gram daun kelor muda, 30 gram gula, sedikit pengharum makanan, dan 400 ml air matang. Seluruh bahan diolah melalui proses pemucatan (blanching) dan diblender hingga halus, ” paparnya.

Menurut data laboratorium (Candriasih & Faisal, 2017), komposisi gizi dalam 40 gram jus kelor meliputi energi 140 kkal, protein 2,4 gram, zat besi 2,47 mg, vitamin A 280,4 ug, dan kalsium 432 mg—angka yang menunjukkan kelor sangat potensial dalam menunjang kesehatan ibu hamil dan menyusui.

Rendahnya angka pemberian ASI eksklusif secara nasional menjadi latar belakang utama kegiatan ini. Data WHO (2020) menunjukkan hanya 44% bayi di dunia mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan, jauh dari target global sebesar 50% di tahun 2025.

Salah satu penyebab rendahnya cakupan ASI eksklusif adalah persepsi bahwa ASI tidak cukup, ditambah faktor stres, kondisi fisik ibu, serta kurangnya pengetahuan dan dukungan sosial. Dalam konteks ini, kelor hadir sebagai “superfood lokal” yang memiliki efek laktagogum, yaitu memperlancar dan meningkatkan produksi ASI.

Tanaman kelor mengandung senyawa fitosterol yang merangsang produksi ASI. Daun kelor juga kaya akan vitamin, mineral, dan antioksidan. Dalam 100 gram daun kelor segar terkandung vitamin C sebesar 220 mg, zat besi 28,2 mg, serta vitamin A sebanyak 16,3 mg.

Tak hanya pelatihan, tim dosen juga menyusun dan membagikan booklet “Pengolahan dan Manfaat Jus Daun Kelor (Moringa Oleifera) pada Ibu Hamil” kepada para peserta. Booklet ini memuat panduan praktis olahan daun kelor untuk ibu hamil dan menyusui sebagai upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas ASI.

“Kami berharap booklet ini dapat dimanfaatkan oleh kader kesehatan, bidan, dan para ibu untuk mengolah kelor menjadi makanan dan minuman bergizi yang mendukung tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan,” tambah Sri Restu.

Sri Restu mengakhiri bahwa kegiatan ini adalah pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Tim dosen menekankan bahwa masyarakat perlu menjadi subjek pembangunan, bukan sekadar objek penerima manfaat. “Jika masyarakat mengenal dan mengolah kelor secara mandiri, maka kita telah memberi solusi berkelanjutan untuk kesehatan generasi mendatang,” tutup Sri Restu Tempali.

Kegiatan ini mendapat sambutan antusias dari warga dan diharapkan menjadi awal dari kebiasaan sehat yang terus dilanjutkan oleh masyarakat Guntarano. (tha)