DONGGALA, trustednews.id – Tingginya kasus hipertensi di wilayah Desa Wombo Kalonggo, Kecamatan Tanantovea, Kabupaten Donggala, mendorong Poltekkes Kemenkes Palu untuk turun langsung memberikan edukasi dan pelatihan kepada masyarakat melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Wombo Kalonggo, Tanantovea -Donggala ,(28/05/2025 ).
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr. Helena Pangaribuan, S.Kep.,Ners.,M.Kep, bersama tim dosen yaitu Baiq Emy Nurmalisa, S.Kep.,Ns.,M.Kep, Nurlailah Umar, S.Kep.,Ns.,M.Kes, dan drg. Hanum Sasmita, M.KM. Fokus utama kegiatan adalah pemberdayaan keterampilan manajemen stres dan relaksasi otot, sebagai bagian penting dalam pengendalian hipertensi berbasis masyarakat.
Kegiatan ini berlangsung dengan penuh antusias dan melibatkan puluhan warga yang sebagian besar merupakan penderita hipertensi maupun anggota keluarga mereka.
Dalam sambutannya, Ketua tim Dr. Helena menekankan bahwa hipertensi tidak cukup diatasi hanya dengan konsumsi obat, tetapi memerlukan perubahan gaya hidup dan pengelolaan stres secara konsisten.
“Tekanan darah bisa melonjak karena stres yang tidak disadari. Melalui pelatihan ini, kami ingin warga memiliki keterampilan sederhana untuk mengelola stres di rumah, yang berdampak besar bagi kesehatan jantung dan pembuluh darah,” ujarnya.
Selain itu kata ia, kegiatan berlangsung dalam beberapa sesi, dimulai dengan penyuluhan tentang faktor risiko hipertensi, gaya hidup sehat, serta bahaya komplikasi seperti stroke dan gagal ginjal.
“Peserta kemudian diajak untuk mempraktikkan teknik relaksasi otot progresif, pernapasan dalam, dan visualisasi positif sebagai bentuk terapi nonfarmakologis yang dapat dipraktikkan secara mandiri” tambahnya.
Tak hanya berhenti pada edukasi, peserta kegiatan juga menerima booklet informatif tentang hipertensi dan teknik relaksasi, serta satu unit tensimeter digital untuk kelompok warga sebagai alat bantu deteksi dini.
“Kami harap alat ini digunakan secara rutin, dan warga bisa saling mengingatkan untuk memeriksa tekanan darah, setidaknya seminggu sekali,” tambah Nurlailah Umar, salah satu anggota tim.
Warga menyambut hangat kegiatan ini. Salah satu ibu yang tak mau disebut namanya mengaku telah lima tahun mengidap hipertensi, mengaku baru kali ini merasakan kegiatan yang benar-benar menyentuh kebutuhan kesehatannya secara langsung.
“Biasanya kami cuma dikasih obat dari puskesmas, tapi tidak tahu kenapa darah tinggi saya kadang naik tiba-tiba. Setelah ikut kegiatan ini, saya sadar ternyata stres dan marah-marah itu bisa bikin tambah parah,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih atas pemberian tensimeter digital. Menurutnya, alat tersebut sangat membantu karena selama ini dirinya harus pergi ke puskesmas untuk sekadar memeriksa tekanan darah.
“Sekarang sudah ada alatnya di kampung, jadi saya bisa tahu sendiri kapan tekanan darah naik dan harus istirahat,” tambahnya.
Di akhir kegiatan, tim pengabdian menyampaikan harapan agar edukasi yang telah diberikan dapat dilanjutkan oleh kader kesehatan desa dan Puskesmas Malambora Wani. Dengan begitu, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh tidak hanya berhenti di hari kegiatan, tetapi terus berkembang di tengah masyarakat.
“Ini bukan akhir, tapi awal. Kami ingin masyarakat Desa Wombo Kalonggo menjadi contoh desa sehat, yang bisa mengelola hipertensi secara mandiri,” tutup drg. Hanum Sasmita.
Tim juga merekomendasikan agar kegiatan serupa diadakan secara berkala di desa-desa lain yang memiliki prevalensi hipertensi tinggi, sebagai bentuk kontribusi nyata institusi pendidikan kesehatan dalam menekan angka penyakit tidak menular di daerah. (wid)








